Tampilkan postingan dengan label menikmati kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menikmati kesehatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Oktober 2022

Obat Sirop itu masalah Kompetensi, Kasus ataukah Intervensi ?

Surat Keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) Nomor: R-PW.01.12.35.352.10.22.1698, perihal: Penghentian Produksi, Distribusi, dan Penarikan Kembali (recall) Obat, tertanggal 17 Oktober 2022

sumber Badan POM

Laporan Kasus

Laporan BPOM atas lima obat sirop yang diduga mengandung cemaran etilen glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) melebihi ambang batas yang ditentukan. Yaitu :

1. Termorex Sirup (obat demam) kemasan dus, botol plastik @60 ml | PT Konimex | izin edar No DBL7813003537A1

2. Flurin DMP Sirup (obat batuk dan flu) kemasan dus, botol plastik @60 ml | PT Yarindo Farmatama | izin edar No DTL0332708637A1

3. Unibebi Cough Sirup (obat batuk dan flu) kemasan Dus, Botol Plastik @ 60 ml | Universal Pharmaceutical Industries | izin edar No DTL7226303037A1

4. Unibebi Demam Sirup (obat demam), kemasan Dus, Botol @ 60 ml | Universal Pharmaceutical Industries | izin edar No DBL8726301237A1

5. Unibebi Demam Drops (obat demam), kemasan Dus, Botol @ 15 ml | Universal Pharmaceutical Industries izin edar No DBL1926303336A1

berita selengkapnya : CNN Indonesia

Kasus Yogyakarta

Kasus Ginjal Akut Misterius di Yogyakarta: Total 6 Anak Meninggal | 19 Okt 2022

... Yusuf dan istri meyakini RSUP Dr. Sardjito telah berupaya sebaik mungkin demi menyelamatkan putrinya. Yusuf juga dilibatkan dalam sebuah panel yang menghadirkan dokter atau ahli lintas disiplin selama ET dirawat. Mulai dari saraf hingga organ dalam.

"Dan, dokter menyatakan ini misterius, cepat sekali menyerangnya. Saya kira jam demi jam sangat berharga, karena penurunannya drastis banget," ujarnya.
....
selengkapnya : Cerita Orang Tua Pasien Gagal Ginjal Akut Wafat Meski Tak Minum Obat | 21 Okt 2022

Kasus Jakarta

Sejak Januari 2022 hingga Kamis (20/10/2022) terdapat 49 pasien gagal ginjal akut misterius yang mendapatkan perawatan di RSCM. Tercatat pasien termuda yang diterima oleh RSCM adalah usia 8 bulan. Sedangkan yang tertua adalah 8 tahun.
Angka kematian pasien gagal ginjal akut misterius tersebut mencapai 63 persen dari 49 pasien yang masuk.
selengkapnya : tribunnews | 21 Okt 2022

Tanggapan 

Produsen Obat

Konimex membantah penggunaan EG dan DEG untuk seluruh produknya. "PT Konimex menyatakan bahwa seluruh obat dalam bentuk sirup yang kami produksi tidak menggunakan bahan baku EG dan DEG," kata Joesoef Chief Executive Officer PT Konimex
selengkapnya : FinanceDetik | 21Okt 2022

Ikatan Apoteker Indonesia

Wakil Ketua Pengurus Pusat IAI, Prof Keri Lestari memaklumi bahwa penarikan seluruh obat sirup tersebut menjadi kewaspadaan pemerintah.

Dari daftar yang dibagikan Menkes, tidak ada sirup Termorex, salah satu obat yang ditarik BPOM karena diduga mengandung cemaran EG melebihi ambang batas. 

Menkes mengatakan temuan 102 obat sirup masih diuji oleh BPOM untuk memastikan obat-obat itu mengandung senyawa etilen glikol dan dietilen glikol melebihi ambang batas atau tidak. Jika memang ditemukan bahan pencemar yang melebihi batas, maka obat tersebut akan dilarang diresepkan dan dijual.

selengkapnya : HealthDetik | 23 Okt 2022

Antidotum : Langkah Kementrian Kesehatan 

4 Pasien Gangguan Ginjal Respons Positif Pada Obat Antidotum, Menkes Bakal Datangkan dari Singapura | Jumat, 21 Oktober 2022

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pihaknya menemukan obat untuk menangani pasien gangguan ginjal akut progresif atipikal yakni antidotum dari Singapura.

Ia mengatakan obat tersebut sudah dites oleh tim ahli ginjal nasional dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Hasilnya, 4 dari 6 pasien yang dites dengan obat tersebut memberi respon positif.

“Sekarang sudah ditemui obatnya, Tim RSCM sebagai tim ahli ginjal nasional kita datangkan obatnya dari singapura kita coba dari 6 pasien, 4 positif responsnya,” kata Budi Gunadi dalam Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) secara virtual, Jumat (21/10/2022).

Ia mengatakan pihaknya segera mendatangkan obat tersebut dalam jumlah yang cukup banyak.

Hal itu menyusul respon positif dari hasil tes yang telah dilakukan.

Adapun nantinya obat itu akan disebarkan ke seluruh rumah sakit di 20 provinsi seluruh Indonesia.

Sebab hingga saat ini, lanjut dia, tercatat telah ada 200 kasus lebih kasus gangguan ginjal yang teridentifikasi di seluruh Indonesia.

“Sekarang sudah teridentifikasi dan sudsh kita tes dalam sampel tertentu, aman dan relatif menyembuhan sekarang kita sedang datangkan dalam jumlah yang cukup besar.”

“Sehingga mudah-mudahan bisa memberikan perlindungan bagi balita-balita kita kalau misalnya terkena racunnya,” ucap Budi Gubadi

Diketahui, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menggunakan obat antidotum dari Singapura untuk mengobati pasien gangguan ginjal akut progresif atipikal.

Pengadaan dan pemberian obat ini telah mendapat izin dari Kementerian Kesehatan.

Pemberian obat antidotum berdasarkan kajian yang dilakukan oleh para ahli.

Di antaranya adalah para ahli dari Amerika dan Inggris yang juga menangani kasus serupa di Gambia.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama RSCM Lies Dina Liastuti.

"Ternyata ada zat yg terkandung dalam obat tertentu yang bisa mengikat racun dalam tubuh seseorang. Kita cari obatnya, ternyata salah satunya yang menjual adalah Singapura," ungkap Lies pada konferensi di RSCM, Jakarta Pusat, Kamis (20/10/2022).

Sebagai rincian, obat antidotum tersebut tiba dalam jumlah 10 Vial pada Selasa (18/10/2022) lalu.

Hingga saat ini RSCM telah memberikan dua vial setiap harinya pada pasien.

Sehingga stok obat tersebut kini telah menipis. Pihaknya pun meminta izin pada Kemenkes untuk mengadakan kembali obat tersebut.

49 kasus gagal ginjal akut

RSCM sejak Januari 2022 hingga Kamis (20/102022) menerima 49 pasien rujukan gangguan ginjal akut misterius.

Dari total pasien rujukan tersebut, 63 persen atau 31 di antaranya meninggal dunia.

Sementara itu sebanyak 7 pasien telah sembuh dan 11 lainnya masih dalam perawatan.

Adapun dari 11 pasien yang dirawat, 10 berada di Pediatric Intensive Care Unit (PICU), dan 1 anak masih di IGD (Instalasi Gawat Darurat).

"Angka kematiannya 63 persen dari 49 orang. Lebih dari 50 persen. Jadi yang pulang atau yang hidup cuma 7 orang. Sekarang yang (dirawat) di RS ada 11 (orang)," kata Direktur Utama RSCM dr Lies Dina Liastuti dalam konferensi pers dikutip dari live streaming Kompas TV, Kamis (20/10/2022).

copy dari tribunnews | 21 Okt 2022

Tanggapan Pakar

  • Dugaan adanya penurunan kualitas sehubungan dengan produk yang dibuat di masa pandemi, seiring dengan meningkatnya konsumsi obat ditengah risiko infeksi virus termasuk Covid-19 | Dicky Budiman - Panel Ahli WHO

Bukan Cuma EG, Pakar Farmasi UGM Duga 2 Hal Ini Picu Gagal Ginjal Akut Anak

22 Oktober 2022

Kasus gangguan gagal ginjal misterius kian meningkat salah satu dugaan penyebab kasus ini adalah obat sirup. Obat tersebut diduga mengandung cemaran Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) yang kemungkinan berasal dari empat bahan tambahan yaitu propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan gliserin/ gliserol yang merupakan bahan berbahaya atau dilarang.

"Yang dilarang kemarin sediaan cair/sirup karena sangat mungkin terjadi keempat bahan yang tadi dinyatakan sebagai sumber EG atau DEG tadi," ucap Kepala Laboratorium Teknologi Farmasi Dr Apt Teuku Nanda Saifullah Sulaiman, MSi pada Webinar yang membahas mengenai kasus gagal ginjal, Sabtu (22/10/2022).
Baca juga: Nambah Lagi! Kasus Gagal Ginjal Akut DKI Jadi 86 Anak, Ini Gejala Hari ke Hari

Di sisi lain, Dr Syaifullah juga menjelaskan kemungkinan lain yang menjadi penyebab adanya gangguan gagal ginjal misterius di Indonesia, seperti:

Produk Tidak Stabil
Dr Syaifullah menyebut produk tidak stabil karena adanya inkompatibilitas dan stabilitas. Ia memberi contoh stabilitas tidak bisa terjadi pada penyimpanan yang tidak baik selama distribusi, produksi.

"Selain itu juga inkompatibilitas, dalam formulasi karena banyak komponen sangat mungkin terjadi inkompatibilitas yang salah satu bentuknya adalah terjadi degradasi salah satu komponen bukan hanya zat aktif," jelasnya.

"Kalau dia mendegradasi bahan yang lain itu biasanya tidak terlalu diperhatikan karena produk akhir yang di cek adalah zat aktif," lanjutnya.

Keberadaan Gliserin dan Sorbitol dalam Pangan Olahan
Kemungkinan lainnya adalah adanya konsumsi gliserin dan sorbitol pada pangan olahan seperti pasta gigi atau yang lainnya dan dikonsumsi sebelumnya dengan obat.

"Bagaimana keberadaan gliserin dan sorbitol yang ada dalam pangan olahan seperti pasta gigi atau yang lainnya dan itu juga mungkin dikonsumsi sebelumnya atau bersamaan dengan obat dan sebagainya kemudian itu ikut menyumbang, ya itu sangat mungkin juga," ujarnya.

Ia menyebut berbagai kemungkinan tersebut bukan bertujuan untuk 'menakut-nakuti' tetapi agar masyarakat tetap waspada terhadap gangguan ginjal akut.

"Ini bukan untuk meresahkan, ini menjadi perhatian kita agar kita lebih berhati-hati sementara ini sampai kemudian kasus ini dinyatakan ditemukan penyebabnya dan penyelesaiannya," pintanya.
(kna/kna)

copy dari DetikHealth


 

Minggu, 24 Oktober 2021

Vertigo - Olah Raga dan Makanan

Olah Raga

Agak susah juga mengira-ira sendiri tanpa bantuan dokter. Antara mengidap sakit vertigo ataukah hanya memiliki gejala yang sama dengan penderita vertigo. Kalau yang gejaa semata dan ternyata tidak memiliki "kelainan" vertigo, mudah-mudahan dengan diet memperbaiki sistem

Vertigo terbagi menjadi dua jenis: 

  • Vertigo peripheral yang disebabkan oleh masalah di bagian dalam telinga atau syaraf vertibular. Kondisi ini terjadi pada sekitar 93 persen kasus penderita vertigo.
  • Vertigo sentral yang disbebakan oleh kelainan di otak.

Olahraga untuk penderita vertigo dirancang khusus untuk mengatasi vertigo peripheral yang disebabkan oleh kristal kalsium karbonat dari bagian lain di telinga yang masuk ke semicircular canal, bagian telinga yang berfungsi menjaga keseimbangan.

Olahraga berikut bisa membantu mengembalikan kristal tersebut ke tempatnya. Namun, jika vertigo disebabkan oleh hal lain, maka latihan-latihan ini tidak akan membantu.
  • Brandt-Daroff
  • Manuver Semont
  • Manuver Epley
  • Manuver Foster
  • Berjalan Kaki

Selengkpanya : idnmedis.com


Larangan Makanan untuk Vertigo

Berikut ini adalah larangan makanan untuk vertigo karena dapat memicu gejala vertigo bertambah parah, yaitu:

  • Makanan manis
  • Makanan asin
  • Kafein
  • Daging asap
  • Pisang
  • Yogurt
  • Cokelat
  • Buah sitrus
  • Gorengan
  • Acar dan makanan fermentasi
  • Daging olahan
  • Hati ayam
  • Alkohol


Penderita vertigo juga harus menghindari makanan yang mengandung asam amino tyramine karena akan memicu gejala bertambah buruk.

Baca lebih lanjut di doktersehat.com

Selasa, 04 Februari 2020

Tiga Gaya Perusak Manusia

Kamis, 20 Juni 2019

Metode Diet OCD (Obsessive Corbuzier's Diet)


Prinsipnya diet dilakukan dengan memanfaatkan konsep "Jendela Makan" dalam sehari semalam.  Jendela makan disini dimaksudkan sebagai pengaturan waktu dimana anda boleh makan dan waktu sisanya adalah puasa makan namun masih boleh minum minuman yang tidak berkalori seperti air mineral, teh tawar, kopi pahit, dan serta minuman yang tidak mengandung gula maupun kalori.

Untuk waktu dimana  kita bebas makan selanjutnya kita sebut sebagai jendela makan disingkat JM, dan sisa waktu untuk jendela puasa JP (puasa dalam pengertian diatas)

Sesuai pengertian jendela waktu JM dan JP  menurut levelnya ada 4 level diet, yaitu :
1. JM 8 - JP 16,
Dibaca sebagai jendela makan selama 8 jam dan waktu puasa 16 jam sisanya.
Dalam pola ini bebas makan sepanjang 8 jam dalam sehari, dan sisanya adalah puasa makan namun masih bisa minum yang tidak berkalori.
contoh : jam 1 siang makan anda bebas makan hingga pukul 9 malam dan sisanya adalah puasa.

Jendela makan yang satu ini cocok dilakukan oleh para pemula selama 1 - 2 minggu hingga tubuh sudah mampu beradaptasi, baru ke level selanjutnya.


2. JM 6 - JP 18

Dalam pola ini bebas makan sepanjang 6 jam dan selebihnya puasa dlm pengertian diatas.
Contoh jam 1 siang bebas makan hingga pukul 7 malam, dan sisanya puasa

Dilakukan jika anda sudah terbiasa dan mampu melakukan jendela makan yang pertama.

3. JM 4 Jam - JP 20
Jika dalam menjalankan ini masih terasa berat bisa di kombinasikan dengan jendela makan ke-1 atau 2


4. JP 24 atau JM 0c - JP 24
dilakukan 1 - 2  saja kali dalam seminggu sebagai selingan dan lakukan sesuai kemampuan tubuh.


dirujuk dari blog mocalover

Selasa, 10 Juli 2018

Karakteristik Tubuh

Rabu, 19 Juli 2017

Fitrah Seksualitas

Punya suami yang kasar? Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.

Punya suami yang "sangat tergantung" pada istrinya? Bingung membuat misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak.

Kok sebegitunya?

Ya karena sosok ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna. Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.

Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.

Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, boarding school dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.

Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, sosok ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.

Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.

Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan "saya perempuan" atau "saya lelaki"

Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai.

Hati hati memasukkan anak kita ke PAUD yang gurunya tidak sepasang, karena bisa mengganggu keseimbangan emosional dan rasional. Anak lelaki yang gurunya lebih banyak perempuan berpotensi "melambai", sementara anak perempuan gurunya lebih banyak lelaki cenderung tomboy dsbnya.

Ketika usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.

Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, bermain dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.

Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.

Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan.

Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.

Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.

Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 - 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.

Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.

Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.

Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?

Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki dewasa atau suami yang kasar, egois dsbnya.

Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.

Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.

Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.

# Dikutip dari sebuah whatsapp group. Terima kasih pada Bung Harry Santosa, penulisnya.

copy dari status fb iwan

Minggu, 21 Agustus 2016

Arah Riest bisa Berbeda, Berbeda juga Manfaatnya

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJ_yWZf2-eE7GrxSgpg69BsUFaCsUiMk-JlSnrtK3eVhW832OScPv_nXx73-qsbwiBPIDtdDeQuYJfhW7ZQFs4gPFkYoE4KAhJArnQQLbq-17HG1fb6bCPI3-ofIJyZlFFQxHe4QiRn49V/s1600/sutimen2.jpg
"Pemikiran saya, terciptanya rokok keretek yang dibuat nenek moyang kita dulu bukan tanpa dasar. Rokok keretek dibuat untuk obat batuk" (Prof Sutiman Bambang Sumitro MS DSc)

Profesor Sutiman Bambang Sumitro, Penemu Filter Rokok Sehat


Jawapos - Rabu, 29 Juni 2011

Di tengah maraknya kontroversi soal bahaya merokok, kini muncul penemuan menarik tentang rokok sehat. Yakni, karya Prof Sutiman Bambang Sumitro MS DSc, guru besar Universitas Brawijaya (UB), Malang, yang berhasil menggemparkan dunia kesehatan. Seperti apa?

Di meja kerja Sutiman B. Sumitro yang berlokasi di laboratorium FMIPA jurusan biologi lantai II UB (Universitas Brawijaya), terlihat tiga bungkus filter rokok. Per bungkus berisi sekitar 30 filter rokok.

Filter-filter rokok itu dikemas dalam plastik transparan. Filter tersebut berdiameter sekitar 7 milimeter dengan panjang 2 sentimeter. Bungkusnya berukuran 7 x 9,5 sentimeter.

Plastik pembungkus tersebut tidak dibuat polos, tapi ada tulisan yang mudah dibaca walau berukuran kecil. Di tengah plastik pembungkus terdapat lingkaran berdiameter 3 sentimeter yang bertulisan Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas Malang. Di bawahnya ada tulisan Filter Rokok Sehat dengan ukuran huruf sedikit lebih besar.

Dengan begitu, tulisan tersebut mudah terbaca ketika pandangan singgah ke pembungkus filter itu. Paling bawah, tertera alamat Jl Surabaya No 5, Malang, lengkap dengan nomor telepon 0341-570631. Di bagian sudut kiri ada banderol Rp 10 ribu.

Begitulah gambaran penemuan Sutiman tentang filter rokok sehat yang mengangkat tema Inovasi Mereduksi Dampak Negatif Merokok dan Memperkuat Dampak Positif Merokok dalam Memperbaiki Kualitas Hidup.

Berdasar penelitian guru besar biologi sel dan molekuler UB itu, filter rokok tersebut disebut divine cigarette. Diamati sepintas, bentuknya mirip filter pada rokok. Warnanya juga sama, yakni putih. "Saya kadang memopulerkan penelitian saya dengan sebutan Nano Biologi Jawaban Keretek Sehat," ungkap Sutiman kepada Radar Malang (Group JPNN) kemarin.

Sebelum mengupas panjang lebar hasil penemuannya, pria kelahiran Jogjakarta, 11 Maret 1954, itu meminta waktu untuk menyampaikan secara singkat asal-muasal ketertarikannya meneliti rokok. "Saya memang bukan perokok. Seorang peneliti justru harus mengabaikan unsur subjektivitas dan mengedepankan objektivitas," ungkap alumnus S-1 Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Dasar penelitian Sutiman terkait dengan permasalahan bangsa yang dirasa menuntut penyelesaian dengan kearifan lokal. Salah satu yang disorot adalah masalah rokok. Banyak peneliti yang menyebutkan bahaya merokok. Di sisi lain, rokok sudah menjadi sebuah industri besar. Di dalamnya melibatkan banyak unsur, yakni ekonomi, ribuan tenaga kerja, serta dampak lain yang perlu pemikiran bersama ketika industri tersebut berhenti.

"Pemikiran saya, terciptanya rokok keretek yang dibuat nenek moyang kita dulu bukan tanpa dasar. Rokok keretek dibuat untuk obat batuk," ungkap pria yang mengambil program doktor di Nagoya University, Jepang, tersebut.

Sayangnya, fakta ilmiah itu tidak pernah diperhatikan pemerintah, terlebih oleh industri rokok keretek di Indonesia. Mereka tidak memiliki hasil riset dan pengembangan produk yang memadai.

Padahal, ditinjau dari aset serta volume perdagangan rokok di Indonesia, riset seputar rokok sesungguhnya gampang direalisasikan. Seiring dengan arus globalisasi, rokok keretek yang merupakan produk kearifan lokal itu dilanda isu sebagai produk tidak sehat tanpa didukung data hasil riset memadai.

Ironisnya, isu rokok tidak sehat tersebut berembus dari luar negeri serta dibangun melalui kegiatan riset asing. Sementara itu, potensi lokal kurang percaya diri untuk melakukan inovasi tentang rokok sehat. Apalagi, ide tentang rokok sehat terkesan menentang arus. "Muncul pemikiran saya untuk ikut mengkaji bahaya rokok. Apakah memang sudah final asap rokok itu berbahaya?" ujarnya.

Ketertarikan Sutiman untuk meneliti rokok dimulai pada 2007. Secara garis besar, prinsip yang dia lakukan kala itu adalah menghilangkan radikal bebas dari asap rokok. Selain itu, memodifikasi makro molekul yang terkandung dalam asap rokok lewat sentuhan teknologi dengan ukuran lebih kecil.

"Divine cigarette ini ada senyawanya, sehingga mampu menjinakkan radikal bebas. Tapi, senyawanya apa saja, itu yang masih dalam proses dipatenkan," ucap guru besar UB yang kini diperbantukan sebagai dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, tersebut.

Bagi perokok, penggunaan divine cigarette tersebut cukup mudah. Filter yang menempel di rokok diambil, selanjutnya diganti divine cigarette hasil penemuan Sutiman. Dengan begitu, divine cigarette menggantikan filter asli pada rokok. "Filter yang asli tinggal diambil dan diganti divine cigarette ini. Tidak rumit," jelas dosen yang juga bertugas di program doktor pendidikan biologi UM (Universitas Negeri Malang) itu.

Dari beberapa responden yang menggunakan divine cigarette tersebut, didapatkan data sesuai dengan tujuan penelitian. Di antaranya, merokok terasa lebih ringan. Bahkan, menghasilkan manfaat di luar yang dipikirkan. Di antaranya, saat merokok di ruang ber-AC, tidak timbul kabut tebal dan tidak meninggalkan bau di ruangan. Lebih dari itu, ada yang lebih penting bagi perokok pasif. Perokok pasif lebih aman ketika berdekatan dengan si perokok.

Hasil diskusi dengan rekannya sesama dosen UB, Yudi Arinto Ponco Wardoyo PhD yang mengambil disertasi soal asap, banyak memberikan support bagi penelitian Sutiman. "Saya sering berdiskusi dengan beliau (Yudi). Saya mendapat banyak masukan untuk memecahkan bahaya kandungan asap rokok," ungkap dosen yang sudah melahirkan puluhan karya penelitian tersebut.

Menurut Sutiman, asap rokok berasal dari pembakaran tidak sempurna yang menghasilkan ribuan komponen berbahaya. Dari komponen tersebut, berhasil ditemukan sekitar lima ribu komponen yang bisa diamati seperti aseton (cat kuku), toluidin (cat) metanol (spiritus bakar), polonium (bahan radioaktif), arsen (racun tikus), serta toluene (pelarut industri). "Hipotesis saya, radikal bebas dari asap rokok memang berbahaya. Tapi, komponen racun yang terkandung itu bisa diminimalisasi," tegas dosen yang memiliki bidang keahlian sel biologi tersebut.

Dia menyebutkan, hasil penelitian dalam bentuk divine cigarette tersebut merupakan fase-fase awal. Karena itu, Sutiman masih merancang penelitian lanjutan. Dua kajian yang sedang dilakukan adalah mengarakteristik jenis-jenis asap dan mengumpulkan data-data dari pengguna divine cigarette. Total ada 200 responden yang dilibatkan dalam penelitian tersebut.

Mengenai divine cigarette, Sutiman mengaku respons masyarakat, terutama dari kalangan perokok, cukup banyak. Kendati belum diproduksi masal, setidaknya dalam sehari ada permintaan sekitar 30 pak divine cigarette. "Hasil penjualan itu digunakan untuk membiayai penelitian yang sudah saya rancang," katanya.

Demi uji coba divine cigarette tersebut, Sutiman mendirikan laboratorium swasta yang diberi nama Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang. Labotarium sebagai tempat produksi tersebut juga digunakan untuk mengumpulkan kajian riset. "Saya memiliki donatur tetap yang bersifat individu untuk membiayai penelitian saya ini," jelas pria murah senyum tersebut.

Menghadapi kontroversi bahwa rokok mengakibatkan gangguan kesehatan, Sutiman sementara mengambil langkah aman. Di antaranya, kapasitas produksi divine cigarette masih dibatasi, belum menawarkan hasil penelitiannya kepada perusahaan rokok, dan tidak menggunakan sistem marketing untuk mengenalkan hasil penelitian tersebut. Dia beralasan semua masih dalam tahap penyempurnaan. (*/jpnn/c5/iro)

copy dari : jpnn.com