Tampilkan postingan dengan label kapitalisasi inovasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kapitalisasi inovasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Desember 2019

Teologi Amal Peradaban

Senin, 12 November 2018

Stan Lee Pelopor Kelahiran Super Hero


Stan Lee (Stanley Martin Lieber)

lahir di New York City, New York, 28 Desember 1922
meninggal di Los Angeles, California, 12 November 2018 pada umur 95 tahun

adalah seorang penulis, editor, penerbit, produser, dan aktor dari Amerika.

Stan Lee mulai membuat komik untuk pertama kalinya pada tahun 1941 tentang Captain America.
Pada tahun 1960, Stan Lee mendirikan Marvel Comics yang memperkenalkan penokohan lebih lengkap dalam karakter seorang pahlawan yang kuat, sehingga menarik minat orang banyak, khususnya anak-anak. Bekerja sama dengan beberapa seniman, termasuk Jack Kirby dan Steve Ditko, dia menciptakan 
  • Spider-Man, 
  • Hulk, 
  • Doctor Strange, 
  • Fantastic Four, 
  • Iron Man, 
  • Daredevil, 
  • Thor, 
  • X-Men, 
dan banyak karakter fiksi lainnya, mengenalkannya secara menyeluruh. Berbagi alam semesta menjadi komik superhero. Selain itu, dia menantang organisasi penyensoran industri komik, Otoritas Kode Komik, yang memaksanya untuk mereformasi kebijakannya.

copas dari wikipedia berbahsa Indonesia.

Minggu, 16 Oktober 2016

Kaskus Ditinggal Ken

 

 Kaskus Ditinggal Perintisnya, Ken Dean Lawadinata

15 Oktober 2016

Ken Dean Lawadinata telah resmi mengundurkan diri dari posisinya sebagai chairman PT Darta Media Indonesia, pengelola situs Kaskus. Saham yang dipegang Ken pun telah seluruhnya dikembalikan pada GDP Ventures...
----
Selepas dari Kaskus, Ken mengaku tidak berminat untuk berinvestasi di perusahaan IT lagi. Sebagai gantinya, dia sedang melirik investasi bidang properti dan komoditas seperti tambang, kayu dan lain-lain...
----
Dia mengakui bahwa bisnis atau industri IT di Indonesia masih terus berkembang. Ada banyak permintaan dan ide-ide baru yang terus menetas. Sayangnya, menurut Ken, risiko di bidang IT masa kini justru terlalu tinggi...
-----
saat ini Ken memiliki dua perusahaan IT, yaitu Smartmama yang bergerak menyajikan konten khusus untuk ibu dan Tororo yang bergerak dalam penjualan online soal kebutuhan bayi.
----
Andrew yang saat ini berperan sebagai Chief Commercial Officer Kaskus menyatakan terima kasih atas dedikasi Ken membesarkan Kaskus. Dia juga memastikan pengunduran diri tersebut tidak mengganggu kinerja perusahaan.

“Ken adalah orang yang bersemangat dan optimistis dalam menjalankan Kaskus. Pengunduran diri Ken tidak akan berdampak langsung terhadap operasional perusahaan. Kaskus akan fokus pada misi menjadi social commerce platform terbesar Indonesia,” terang Andrew.

selengkapnya silahkan : tekno.kompas.com

Kamis, 01 September 2016

Indonesia di Sci-Fi Hardware Hackathon 2016


Sangat jarang kita dengar Indonesia menghasilkan inovasi teknologi berwujud perangkat keras (hardware). Sci-Fi Hardware Hackathon 2016 yang diselenggarakan Mediatrac, dan diklaim sebagai hardware hackathon pertama dan terbesar Indonesia, berusaha menjadi solusi terhadap keringnya kreasi hardware anak negeri.

Sebanyak 375 inovator muda Indonesia, dalam 24 jam, berusaha menciptakan berbagai inovasi teknologi perangkat keras, yang didasarkan pada cerita fiksi ilmiah yang mereka karang. BBC Indonesia merangkum sejumlah produk inovasi, yang masih dalam bentuk purwarupa (prototype), dari ajang tersebut.
Alat pendeteksi Zombie

Alkisah 300 tahun yang akan datang, populasi manusia menurun drastis karena wabah zombie. Pemerintah pun menciptakan alat yang dapat membedakan manusia dan zombie, serta memetakannya.

Itulah premis fiksi ilmiah kreasi tim IG-2-T, yang terdiri dari tujuh orang mahasiswa dan lulusan Institut Teknologi Bandung. Memposisikan diri sebagai pemerintah, IG-2-T menciptakan alat pendeteksi zombie bernama Human Protection Project 7.0.

"Untuk membedakan manusia dan zombie, kami asumsikan kalau manusia hidup itu memiliki detak jantung dan bergerak. Sementara orang mati, tidak punya detak jantung dan tidak bergerak. Sehingga zombie kami asumsikan tidak punya detak jantung, tetapi bergerak. Kami menggunakan sensor detak jantung dan pergerakan untuk mendapat informasi itu," ungkap Alinda Nur Fitriana, salah satu anggota IG-2-T.

Alat pendeteksi tersebut dipasang di pergelangan tangan manusia yang tersisa. "Nanti di masa depan ukurannya puluhan ribu kali lebih kecil sehingga bisa dimasukkan ke dalam badan."

Alinda menceritakan "device ini real time mengirimkan info ke server, apakah status si manusia, hidup atau sudah jadi zombie. Kalau sudah jadi zombie, pemerintah bisa mengeluarkan peringatan melalui handphone kepada manusia lain dan memberi informasi di mana pos penanganan terdekat."

Meskipun rasanya kisah zombie masih jauh dari kenyataan saat ini, Alinda mengungkapkan teknologi Human Protection Project 7.0, sekarang dapat digunakan di dunia kesehatan. "Misalnya jadi semacam wearable device (peranti yang bisa dikenakan) seperti smart-watch (arloji pintar), untuk mendeteksi detak jantung manusia."

Pada Sci-Fi Hardware Hackathon 2016 ini, Human Protection Project 7.0 merebut juara kedua konsep terbaik, dan menjadi pemenang pertama desain terbaik.
Qendi, teknologi yang membuat tanaman ‘berbicara’

Salah satu inovasi piranti keras paling praktis pada Hackathon kali ini adalah Qendi, produksi Arda Surya Editya dan kawan-kawan, yang berasal dari Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur.

Qendi menggunakan teknologi augmented reality yang belakangan populer karena permainan Pokemon Go. Namun, hardware ini tidak digunakan untuk bermain game, tetapi untuk super-monitoring terhadap tanaman, misalnya sawah dan perkebunan.

"Dengan teknologi ini, kita nanti tinggal mengarahkan kamera, monitor, atau kacamata ke arah tanaman. Nanti tanamannya sendiri yang ngomong ke kita, apakah mereka sedang butuh air, pupuk, atau lainnya," ungkap Arda, yang merupakan mahasiswa S2 Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Arda mengungkapkan Qendi menggunakan "internet of things biasa". Alat-alatnya terdiri dari sensor moisture dan kelembaban tanah, serta sensor air. "Karena merujuk pada balai pengembangan penelitian tanaman Kementerian Pertanian, tiga hal itulah yang diperlukan untuk mengetahui kondisi tanaman."

Arda memaparkan, "moisture untuk mengukur nutrisi, air untuk mengetahui kualitas tumbuh, dan kelembaban, karena tidak semua tanaman bisa tumbuh di semua kelembaban."

Munculnya ide pembuatan Qendi berawal dari fakta bahwa dari generasi ke generasi, petani melihat kondisi tanamannya "hanya berdasarkan feeling, tanpa menggunakan alat ukur yang jelas".

"Kalau orang-orang tua kita, feelingnya sudah kuat. Kalau anaknya bagaimana? Kalau mau jadi petani, perlu dilatih untuk dapat feeling itu. Ini salah satu alat untuk belajar itu. Apalagi dengan augmented reality, sangat mudah digunakan, bahkan bagi orang yang agak gaptek, karena langsung terlihat."
Si tangan Tuhan

Sesuai dengan namanya, robot Manus Dei atau Tangan Tuhan, diciptakan Andika Pradana Arif untuk memenuhi impian bahwa "seperti Tuhan, eksistensi manusia juga bisa ada di manapun dan kapanpun."

Pengguna tinggal mengarahkan telapak tangannya ke kamera image processing, yang akan merekam posisi tangan. Setelah terekam, robot yang juga berbentuk tangan ini pun dapat dikendalikan pergerakannya sesuai pergerakan tangan pengguna di depan kamera, dari jarak jauh.

"Kegunaannya nanti bisa di dunia kedokteran, untuk operasi. Dokter gak perlu lagi datang dan masuk ke ruang operasi sering-sering. Dia tinggal ada di satu ruang untuk mengendalikan berbagai operasi dari jarak jauh," ungkap Andika.

Di dalam bayangan Andika, Manus Dei nantinya juga dapat membantu manusia di kesehariannya, misalnya mengendalikan berbagai perlengkapan rumah tangga di rumah dari jauh, misalnya dari kantor atau tempat pelesir ketika si pemilik sedang berwisata.

Menurutnya Manus Dei penting di masa depan karena "untuk berpindah tempat, butuh waktu, dan time is money".

Meskipun masih merupakan purwarupa, Andika menceritakan kebutuhan akan robot Tangan Tuhan ini sudah dirasakannya saat ini, salah satunya ketika meminta tanda tangan dosen untuk skripsinya.

"Dosen saya lagi keluar kota saat saya butuh tanda tangannya. Cukup mengganggu karena harus menunggu selama seminggu. Saya bertanya-tanya kenapa nggak bisa tanda tangan dari jauh? Dari itulah muncul ide ini," ungkap lulusan Teknik Elektro, Telkom University, Bandung itu.
Pulau pintar

Floating Smart Dome adalah jawaban atas kekhawatiran Irwan Rudy Pamungkas dan kawan-kawannya dari Institut Pertanian Bogor, atas pemanasan global dan terus naiknya permukaan air laut.

Jika daratan terus tenggelam, "Kita bisa pindah ke pulau, dome, yang bisa bergerak untuk menggantikan daratan," tutur Rudy.

Di dalam pulau tersebut, ada sensor api, gas, air, kelembaban, cahaya, dan lain sebagainya. Seluruh sensor tersebut mengirim data ke server, yang hasil olahan datanya bisa disaksikan seluruh penduduk pulau lewat komputer atau handphone.

"Dari situ mereka bisa dapat informasi ketinggian air untuk keseimbangan dome agar tidak tenggelam, ada pula informasi depth, untuk mendeteksi kedalaman, untuk jaga-jaga jika dome terbawa arus dan dibawa ke perairan dangkal."

Menurut Irwan, pembuatan Floating Smart Dome, benar-benar perlu dipertimbangkan serius. "Ini (kenaikan muka air laut) masalah yang urgent. Kita harus mengambil langkah preventif. Jangan sampai seperti kebiasaan orang Indonesia, kita telat melakukan pencegahan."

Inovasi hardware ini menjadi pemenang utama Sci-Fi Hardware Hackathon 2016, dan memperoleh hadiah uang tunai Rp62 juta, serta mendapat kesempatan memperkenalkan ide dan karyanya ke masyarakat luas.

Dicopy dari berita bbc. Foto-foto dan info selengkapnya silahkan ikuti link berikut.
'Tangan Tuhan' buatan dua lulusan Telkom University bisa menggerakkan robot dari jarak jauh

Sabtu, 30 April 2016

Tantangan Pendidikan di Jaman Digital


”Total semua yang akan di blokir ada 22 game kekerasan tapi ada beberapa yang juga di selipkan pornografi, itu ada. Sementara yang sudah di Blokir ada 15 termasuk GTA ( Grand Theft Auto ). “ Ujar Erlinda, Sekjen KPAI.

Berikut List 15 Game Berbahaya Bagi Anak Versi Kemendibkud

1. Grand Theft Auto
2. Mortal Combat
3. Point Blank
4. Counter Strike
5. World of Warcraft
6. Call of Duty
7. Cross Fire
8. War Rock
9. Future Cop
10. Carmageddon
11. Shelshock
12. Raising Force ( Maksudnya Rising Force )
13. Atlantica
14. Bully
15. Conflict of Vietnam

Dampak Buruk Kecanduan Game

1. Perilaku Negatif
2. Tidak Peka Sosial
3. Menganggu Kesehatan
4. Gangguan Emosi
5. Mengalami Obsesi
6. Mendorong Ketidakjujuran
7. Tidak Mampu Mengendalikan Diri
8. Mempengaruhi Otak

Kalau ingin baca tanggapan pelaku industri dan beberapa komen gamers, bisa cek : www.inigame.id


Berkenaan dengan itu yang merasa sbg pelaku industri menyatakan sbg harus ada regulasi dengan tools yg disebut dengan Rating Game (misal : PEGI, ESRB dari negara lain). Dengan sistem rating bisa disegmentasikan menurut usia atau disesuaikan dengan kultur indonesia.

Sempat dianalogikan dengan film, pelaku industri menganggap game tidak dapat dibendung. Dimana di film ada LSF, maka untuk game perlu ada rating game.
Kalau dianalogikan dengan film, maka tentu akan ada film dewasa dalam arti hiburan pornografi juga yi hiburan game porno.

Mungkin atas dasar kondisi bahwa kalau di film sudah terlanjur susah, maka untuk game mumpung belum susah diatur. Untuk itu soal rating game ini oleh KPAI bersama Indonesia Children Online Protection (ID COP) menyatakan penolakannya terhadap Uji Publik Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tentang tentang Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik (release KPAI).

Adapun materi RPM itu sendiri (berupa file pdf) bisa didownload di : web.kominfo.go.id
Uji publik diumumkan melalui Siaran Pers NO.82/PIH/KOMINFO/10/2015 tanggal 16 Oktober 2015 yang dapat dibaca di : kominfo.go.id

Reaksi salah satu pelaku industri saat itu salah satunya bisa dilihat di : duniaku.net

Kamis, 02 Juli 2015

Strategi Pembangunan Infrastruktur di Indonesia

Membangun negeri, dalam hal ini membangun infrastruktur sarana dan prasarana kegiatan umum memang diperlukan gaya strategi membangun yang jitu.




dari twitter RR 15 Juni 2015

Rabu, 04 Januari 2012

Sukiyat, Tokoh di Balik Kiat Esemka, Mobil Dinas Wali Kota Solo



Sukiyat, Gagal Masuk SMK karena Cacat Kaki

TIDAK sulit menemukan lokasi pusat pembuatan mobil Kiat Esemka. Yakni, di pinggir Jalan Raya Solo-Jogja Km 4, Ngaran, Klaten, Jawa Tengah. Papan nama bengkel tersebut terpampang jelas dan berukuran cukup besar.

Pengguna jalan yang melaju dari arah Solo hampir pasti bisa melihat jelas papan itu. Aktivitas di bengkel tersebut tidak jauh berbeda dari bengkel pada umumnya. Suara bising mobil terdengar keras, bahkan sesekali memekakkan telinga. Ramainya aktivitas menandakan bahwa bengkel punya banyak pelanggan.

Sebuah mobil hitam diparkir di depan ruangan berukuan sekitar 6 x 9 meter. Beberapa mekanik muda sedang menyempurnakan mobil tersebut. Ada yang sedang memoles, ada pula yang memperbaiki bagian mesin dan pintu mobil.

"Ini salah satu mobil Kiat Esemka yang sedang dirakit. Tinggal proses akhir. Yang merangkai sejak awal sampai hampir jadi seperti sekarang adalah siswa SMK yang PKL (praktik kerja lapangan) di tempat saya," ujar Sukiyat, pemilik bengkel sekaligus pelopor pembuatan mobil Kiat Esemka.

Nama Kiat Esemka merupakan gabungan nama Sukiyat (biasa dipanggil Kiat) dan SMK yang ditulis dengan Esemka. Sukiyat adalah pemilik ide, sedangkan siswa SMK menjadi perakitnya.

Langkah Sukiyat memelopori kelahiran Kiat Esemka berawal dari keprihatinannya terhadap salah satu SMK negeri di Klaten yang kurang diminati masyarakat. Sebab, SMK tersebut selama ini hanya mengandalkan jurusan pertanian.

Setelah terpilih menjadi wakil ketua komite sekolah, Kiyat "panggilan Sukiyat" memulai membuat gebrakan. Pada 2009, dia mempersiapkan rencana merakit mobil. Awalnya, dia memanfaatkan mesin mobil Toyota Corn sebagai objek praktik siswa SMK yang magang. Ternyata, dari mesin tersebut, selama dua bulan, siswa mampu merangkai mesin sampai hampir jadi.

Proses selanjutnya adalah membuat bodi mobil. Menurut pria kelahiran Klaten, 22 April 1957, tersebut, proses inilah yang paling sulit. Dia sampai lupa berapa kali percobaan dilakukan siswa PKL untuk membuat bodi.

"Sebab, untuk membentuk bodi dan lantai mobil, dibutuhkan ketelitian. Salah sedikit saja ukurannya, berpengaruh pada rangkaian yang akan digabungkan. Sangat banyak percobaan yang dilakukan. Saya sampai lupa," ungkapnya.

Dia masih ingat, setelah mobil selesai dibuat, ada kunjungan dari Kementerian Pendidikan Nasional (sekarang Kemendikbud). Yang datang saat itu adalah Direktur Pembinaan SMK Joko Sutrisno.

Mengetahui potensi tersebut, Joko meminta Kiyat membina siswa SMK agar merangkai mobil sendiri tanpa menggunakan mesin pabrik. Kiyat langsung menyanggupi permintaan Joko. Dia kemudian mengumpulkan siswa yang PKL di bengkelnya.

Ternyata, para siswa juga tertantang untuk bisa merangkai mobil sendiri. Saat merangkai Kiat Esemka kali pertama, memang butuh waktu cukup lama, sekitar 2,5 bulan.

Lamanya waktu pengerjaan itu disebabkan masih banyaknya komponen yang harus diburu ke toko otomotif atau dibuat sendiri. Mulai onderdil mesin, persneling, sampai pembuatan lantai mobil. Untuk semua itu, Kiyat hanya bertugas membimbing dan mengawasi. Pengerjaan teknis merangkai mobil ditangani seluruhnya oleh siswa SMK yang PKL dan diawasi guru pembimbing.

Saat ini, sudah ada 10 unit mobil yang diproduksi Kiyat bersama puluhan siswa SMK yang praktik di bengkelnya. Dua unit lagi sedang dalam proses dan hampir jadi. Sepuluh mobil yang sudah selesai tersebut merupakan pesanan SMK yang siswanya ikut PKL di bengkelnya.

"Mobil yang dipesan SMK digunakan untuk praktik agar siswa lebih mahir. Dengan demikian, saat lulus SMK nanti, mereka benar-benar siap kerja, tidak bingung mau bekerja apa," ungkap bapak dua anak tersebut.

Bukan hanya SMK yang berminat terhadap mobil-mobil tersebut. Wali Kota Solo Joko Widodo sudah mengambil dua unit untuk kendaraan dinas dirinya dan wakil wali kota. Saat ini, Bupati Klaten Sunarna juga memesan dua unit.

Kiyat menegaskan, merek mobil Kiat Esemka tersebut sudah dipatenkan. Namun, karena masih terkendala izin dan administrasi, mobil itu belum bisa diproduksi secara masal. Sebab, untuk memproduksi mobil, diperlukan persyaratan yang cukup rumit. Dia berharap pemerintah membantu menyelesaikan persoalan tersebut.

Meski demikian, tidak berarti dia berhenti memproduksi Kiat Esemka. Dia akan terus-menerus membuat mobil karena saat ini banyak sekolah yang memesan. Kiyat mengklaim, banyak koleganya yang sudah memesan. Total mencapai ribuan.

Namun, karena masih terkendala izin, dia belum berani menyanggupi. "Sekarang saya masih berfokus untuk menularkan ilmu kepada siswa SMK yang mau belajar di bengkel saya. Saat ini, ada lebih dari 15 sekolah yang mengirim siswanya untuk PKL. Jumlahnya seangkatan mencapai puluhan orang," tambahnya.

Sebelum siswa memulai merangkai mobil, Kiyat memberikan tugas khusus kepada mereka untuk membuat miniatur mobil. Masing-masing kelompok terdiri atas dua orang. Dalam waktu satu sampai dua pekan, siswa harus bisa menyelesaikan miniatur mobil tersebut. Tujuannya, siswa bisa mempelajari dengan detail cara merangkai mobil yang sesungguhnya.

Terkait dengan kualitas, Kiyat mengklaim berani bersaing dengan mobil keluaran pabrik. Bahkan, pernah dilakukan test drive mobil tersebut dengan jarak Jakarta"Surabaya. Bahan bakarnya premium dengan perbandingan 1 liter : 12 kilometer, sedangkan isi silinder 1.500 cc.

Untuk harga, Kiat Esemka jauh lebih terjangkau jika dibanding mobil keluaran pabrik. Satu unit Kiat Esemka hanya dibanderol Rp 95 juta.

Ketertarikan Kiyat di bidang otomotif terlihat sejak dirinya berusia belasan tahun. Saat menginjak remaja, dia mencoba masuk SMK. Namun, karena kaki kirinya cacat (difabel), dia tidak bisa masuk ke sekolah tersebut.

Kiyat tidak putus asa. Dia kemudian masuk ke Lembaga Penelitian Pengembangan Penyandang Cacat Prof Dr Soeharso. Dia belajar di lembaga tersebut selama setahun. Yang dipilih bukan jurusan otomotif, tapi menjahit. Hal tersebut didasarkan pada latar belakang orang tuanya yang memiliki usaha tenun.

"Kemampuan dasar di bidang otomotif saya lebih karena belajar otodidak. Jadi, saya sejak kecil memang senang mengutak-atik motor. Saya dulu membuka bengkel Vespa, kemudian lanjut ke Hardtop," ungkap suami Halimah Partini tersebut.

Setelah usahanya cukup berkembang, perusahaan cat dari Jerman (Pacific Paint) dan Jepang (Nippon Paint) tertarik. Pada 1982, Kiyat dikirim ke Jepang oleh perusahaan cat tersebut selama tiga bulan. Selama di Jepang, kemampuan Kiyat tentang otomotif semakin terasah. Dia mendapat tambahan ilmu tentang teknik body repair.

Setahun kemudian, giliran perusahaan cat dari Jerman mengirim Kiyat untuk belajar di negara tersebut. Waktunya hampir sama, tiga bulan. Di Jerman, dia kembali mendalami body repair. Pengalaman tersebut kemudian semakin meyakinkan Kiyat bahwa bengkel yang dia dirikan bisa lebih berkembang.

Pria yang kaki kirinya cacat sejak berumur enam tahun karena polio itu merupakan sosok yang tegas dalam hal pekerjaan. Bahkan, dia jeli membaca peluang bisnis. Itulah yang juga membuat dirinya berani menggagas pembuatan Kiat Esemka. (*/c5/nw/ca)

reportase oleh : BOY ROHMANTO, Klaten - JPNN.com Rabu, 4 Januari 2012