
Sangat
jarang kita dengar Indonesia menghasilkan inovasi teknologi berwujud
perangkat keras (hardware). Sci-Fi Hardware Hackathon 2016 yang
diselenggarakan Mediatrac, dan diklaim sebagai hardware hackathon
pertama dan terbesar Indonesia, berusaha menjadi solusi terhadap
keringnya kreasi hardware anak negeri.
Sebanyak 375
inovator muda Indonesia, dalam 24 jam, berusaha menciptakan berbagai
inovasi teknologi perangkat keras, yang didasarkan pada cerita fiksi
ilmiah yang mereka karang. BBC Indonesia merangkum sejumlah produk
inovasi, yang masih dalam bentuk purwarupa (prototype), dari ajang
tersebut.
Alat pendeteksi Zombie
Alkisah 300
tahun yang akan datang, populasi manusia menurun drastis karena wabah
zombie. Pemerintah pun menciptakan alat yang dapat membedakan manusia
dan zombie, serta memetakannya.
Itulah premis fiksi
ilmiah kreasi tim IG-2-T, yang terdiri dari tujuh orang mahasiswa dan
lulusan Institut Teknologi Bandung. Memposisikan diri sebagai
pemerintah, IG-2-T menciptakan alat pendeteksi zombie bernama Human
Protection Project 7.0.
"Untuk membedakan manusia dan
zombie, kami asumsikan kalau manusia hidup itu memiliki detak jantung
dan bergerak. Sementara orang mati, tidak punya detak jantung dan tidak
bergerak. Sehingga zombie kami asumsikan tidak punya detak jantung,
tetapi bergerak. Kami menggunakan sensor detak jantung dan pergerakan
untuk mendapat informasi itu," ungkap Alinda Nur Fitriana, salah satu
anggota IG-2-T.
Alat pendeteksi tersebut dipasang di
pergelangan tangan manusia yang tersisa. "Nanti di masa depan ukurannya
puluhan ribu kali lebih kecil sehingga bisa dimasukkan ke dalam badan."
Alinda
menceritakan "device ini real time mengirimkan info ke server, apakah
status si manusia, hidup atau sudah jadi zombie. Kalau sudah jadi
zombie, pemerintah bisa mengeluarkan peringatan melalui handphone kepada
manusia lain dan memberi informasi di mana pos penanganan terdekat."
Meskipun
rasanya kisah zombie masih jauh dari kenyataan saat ini, Alinda
mengungkapkan teknologi Human Protection Project 7.0, sekarang dapat
digunakan di dunia kesehatan. "Misalnya jadi semacam wearable device
(peranti yang bisa dikenakan) seperti smart-watch (arloji pintar), untuk
mendeteksi detak jantung manusia."
Pada Sci-Fi
Hardware Hackathon 2016 ini, Human Protection Project 7.0 merebut juara
kedua konsep terbaik, dan menjadi pemenang pertama desain terbaik.
Qendi, teknologi yang membuat tanaman ‘berbicara’
Salah
satu inovasi piranti keras paling praktis pada Hackathon kali ini
adalah Qendi, produksi Arda Surya Editya dan kawan-kawan, yang berasal
dari Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur.
Qendi
menggunakan teknologi augmented reality yang belakangan populer karena
permainan Pokemon Go. Namun, hardware ini tidak digunakan untuk bermain
game, tetapi untuk super-monitoring terhadap tanaman, misalnya sawah dan
perkebunan.
"Dengan teknologi ini, kita nanti tinggal
mengarahkan kamera, monitor, atau kacamata ke arah tanaman. Nanti
tanamannya sendiri yang ngomong ke kita, apakah mereka sedang butuh air,
pupuk, atau lainnya," ungkap Arda, yang merupakan mahasiswa S2 Institut
Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
Arda
mengungkapkan Qendi menggunakan "internet of things biasa". Alat-alatnya
terdiri dari sensor moisture dan kelembaban tanah, serta sensor air.
"Karena merujuk pada balai pengembangan penelitian tanaman Kementerian
Pertanian, tiga hal itulah yang diperlukan untuk mengetahui kondisi
tanaman."
Arda memaparkan, "moisture untuk mengukur
nutrisi, air untuk mengetahui kualitas tumbuh, dan kelembaban, karena
tidak semua tanaman bisa tumbuh di semua kelembaban."
Munculnya
ide pembuatan Qendi berawal dari fakta bahwa dari generasi ke generasi,
petani melihat kondisi tanamannya "hanya berdasarkan feeling, tanpa
menggunakan alat ukur yang jelas".
"Kalau orang-orang
tua kita, feelingnya sudah kuat. Kalau anaknya bagaimana? Kalau mau jadi
petani, perlu dilatih untuk dapat feeling itu. Ini salah satu alat
untuk belajar itu. Apalagi dengan augmented reality, sangat mudah
digunakan, bahkan bagi orang yang agak gaptek, karena langsung
terlihat."
Si tangan Tuhan
Sesuai dengan namanya,
robot Manus Dei atau Tangan Tuhan, diciptakan Andika Pradana Arif untuk
memenuhi impian bahwa "seperti Tuhan, eksistensi manusia juga bisa ada
di manapun dan kapanpun."
Pengguna tinggal mengarahkan
telapak tangannya ke kamera image processing, yang akan merekam posisi
tangan. Setelah terekam, robot yang juga berbentuk tangan ini pun dapat
dikendalikan pergerakannya sesuai pergerakan tangan pengguna di depan
kamera, dari jarak jauh.
"Kegunaannya nanti bisa di
dunia kedokteran, untuk operasi. Dokter gak perlu lagi datang dan masuk
ke ruang operasi sering-sering. Dia tinggal ada di satu ruang untuk
mengendalikan berbagai operasi dari jarak jauh," ungkap Andika.
Di
dalam bayangan Andika, Manus Dei nantinya juga dapat membantu manusia
di kesehariannya, misalnya mengendalikan berbagai perlengkapan rumah
tangga di rumah dari jauh, misalnya dari kantor atau tempat pelesir
ketika si pemilik sedang berwisata.
Menurutnya Manus Dei penting di masa depan karena "untuk berpindah tempat, butuh waktu, dan time is money".
Meskipun
masih merupakan purwarupa, Andika menceritakan kebutuhan akan robot
Tangan Tuhan ini sudah dirasakannya saat ini, salah satunya ketika
meminta tanda tangan dosen untuk skripsinya.
"Dosen
saya lagi keluar kota saat saya butuh tanda tangannya. Cukup mengganggu
karena harus menunggu selama seminggu. Saya bertanya-tanya kenapa nggak
bisa tanda tangan dari jauh? Dari itulah muncul ide ini," ungkap lulusan
Teknik Elektro, Telkom University, Bandung itu.
Pulau pintar
Floating
Smart Dome adalah jawaban atas kekhawatiran Irwan Rudy Pamungkas dan
kawan-kawannya dari Institut Pertanian Bogor, atas pemanasan global dan
terus naiknya permukaan air laut.
Jika daratan terus tenggelam, "Kita bisa pindah ke pulau, dome, yang bisa bergerak untuk menggantikan daratan," tutur Rudy.
Di
dalam pulau tersebut, ada sensor api, gas, air, kelembaban, cahaya, dan
lain sebagainya. Seluruh sensor tersebut mengirim data ke server, yang
hasil olahan datanya bisa disaksikan seluruh penduduk pulau lewat
komputer atau handphone.
"Dari situ mereka bisa dapat
informasi ketinggian air untuk keseimbangan dome agar tidak tenggelam,
ada pula informasi depth, untuk mendeteksi kedalaman, untuk jaga-jaga
jika dome terbawa arus dan dibawa ke perairan dangkal."
Menurut
Irwan, pembuatan Floating Smart Dome, benar-benar perlu dipertimbangkan
serius. "Ini (kenaikan muka air laut) masalah yang urgent. Kita harus
mengambil langkah preventif. Jangan sampai seperti kebiasaan orang
Indonesia, kita telat melakukan pencegahan."
Inovasi
hardware ini menjadi pemenang utama Sci-Fi Hardware Hackathon 2016, dan
memperoleh hadiah uang tunai Rp62 juta, serta mendapat kesempatan
memperkenalkan ide dan karyanya ke masyarakat luas.
Dicopy dari berita bbc. Foto-foto dan info selengkapnya silahkan ikuti link berikut.
'Tangan Tuhan' buatan dua lulusan Telkom University bisa menggerakkan robot dari jarak jauh