Minggu, 24 Juni 2012

Survei: Anak dan Remaja Sekarang Makin Malas


Republika.co.id - Senin, 18 Juni 2012
REPUBLIKA.CO.ID, Anak-anak sekarang makin malas? Ternyata, ini bukan isapan jempol belaka. Dari hasil survei terungkap, hampir seperempat dari anak-anak berusia 5-16 tahun enggan membantu menyelesaikan urusan rumah.

Hasil riset itu juga membuktikan, ketika orangtua menghabiskan sekitar empat jam dalam sepekan untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah, sumbangan anak-anak untuk rumah justru tak mencapai separuhnya.

Itu pun, menurut survei yang dilakukan sebuah perusahaan produsen pembersih, tiga dari lima anak harus diiming-imingi barang atau uang untuk membantu pekerjaan di rumah. ''Para orangtua sekarang ini kerap mengatakan,'Anak-anak sekarang mendapatkan segalanya dengan mudah' dan tampaknya itulah yang terjadi,'' ujar Lindsey Taylor dari Vileda, pihak produsen.

Parahnya lagi, tak hanya waktu untuk rumah yang minim dibandingkan sekitar tiga atau empat tahun lalu, sekarang ini banyak anak muda yang tak melakukan apa pun untuk membantu orangtua mereka yang sibuk.

Bahkan, untuk pekerjaan rumah yang mudah seperti merapikan tempat tidur setelah bangun atau membereskan mainan setelah digunakan juga enggan mereka lakukan.

Maka, satu-satunya cara untuk mengubah kebiasaan buruk itu adalah dengan belajar memberikan tanggung jawab pada anak. ''Membantu membersihkan rumah adalah cara terbaik untuk mengajarkan pada anak soal tanggung jawab,'' ujar Taylor.
Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: dailymail

sumber : republika.co.id

Belajar dari Pendidikan Moral di Jepang

Republika Online - Kamis, 21 Juni 2012

Sebenarnya apa sih landasan pendidikan moral di Jepang?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja saat zemi1) setahun yang lalu.

Hening sejenak. Tampaknya saya melontarkan pertanyaan yang cukup sulit untuk orang Jepang. 


Akhirnya senior saya menanggapi. Landasan moral di sekolah-sekolah jepang diambil dari intisari berbagai macam agama dan etika yang ada di dunia ini.

Saya sempat dua kali melakukan observasi pelajaran moral di dua sekolah yang berbeda. Di Jepang, selain khusus ada jam pelajaran tentang moral (doutoku), pesan-pesan moral juga terintegrasi dalam seluruh mata pelajaran di Jepang.


Dua tema yang sempat saya saksikan di kelas satu sekolah jepang adalah, pelajaran tentang berbohong, dan giliran piket bersih-bersih di kelas. Dalam dua sesi yang berbeda itu, pendekatan yang dilakukan oleh guru jepang relatif mirip. Tidak dengan mendoktrin tentang pentingnya untuk berlaku jujur atau menjalani tugas piket. Namun, dengan mengajak anak-anak berdiskusi tentang akibat-akibat berbohong atau ketika mereka tidak menjalani tugas piket.


Diskusi interaktif itu menggiring anak-anak untuk berpikir tentang pentingnya melaksanakan nilai-nilai moral yang akan diajarkan (proses kognitif-sikou ryoku). Tidak ada proses menghafal, juga tidak ada tes tertulis untuk pelajaran moral ini. 


Untuk mengecek pemahaman anak-anak tentang pelajaran moral yang diajarkan, mereka diminta untuk membuat karangan, atau menuliskan apa yang mereka pikirkan tentang tema moral tertentu (proses menilai-handan ryoku). Kadang mereka juga diputarkan film yang memiliki muatan moral yang akan diajarkan, dan diajak untuk berdiskusi isi dari film itu.


Malam itu di kuliah integrated learning, kami belajar pemikiran John Dewey tentang moral. John Dewey merupakan salah satu tokoh yang membawa pengaruh besar di bidang pendidikan di Amerika serta negara-negara Eropa. Dewey juga merupakan tokoh kunci yang menelorkan gagasan tentang pentingnya dibuat hubungan yang erat, antara pelajaran yang diajarkan di sekolah dengan kehidupan di masyarakat.


Konsep-konsep pemikiran Dewey banyak dipakai di "seikatsu-ka (living environmental study)" dan "sougou gakusyuu (integrated learning)" di Jepang. Dua hal yang menjadi inti pendidikan ala Dewey adalah pendidikan yang berfokus pada minat anak-anak dan pentingnya belajar melalui pengalaman langsung.


Dalam kuliah itu, yang menjadi ajang diskusi para mahasiswa, bukannya konsep moral menurut Dewey, namun lebih kepada kebingungan para mahasiswa jepang tentang definisi moral. Di Jepang sendiri, meskipun ada pelajaran moral (doutoku) dan ada kurikulumnya secara spesifik apa yang harus diajarkan, namun apa definisi moral, baik-buruk, benar-salah, sama sekali tidak ada batasannya. Penekanannya lebih kepada nilai-nilai yang dianggap baik secara universal, seperti nilai-nilai kejujuran, kerja keras, menghormati hak orang lain, disiplin, rasa malu ketika tidak memenuhi kewajiban, dan sebagainya.


Hubungan antara moral dengan agama juga sempat dibahas, tapi untuk hal ini menimbulkan pro dan kontra. Guru-guru di Jepang memang sangat berhati-hati dalam hal ini. Karena urusan agama adalah urusan individu, jadi tidak berhak diajarkan oleh guru-guru di sekolah. Di Jepang sendiri, dengan kualitas guru-guru yang sangat baik, pendidikan moral yang didukung dengan sistem pendidikan, serta undang-undang yang fokus pada pembentukan karakter di sekolah dasar dan menengah, bisa sukses menanamkan nilai-nilai yang diajarkan tadi.


Namun, saya merasakan kerapuhan fondasi yang mendasari pelaksanaan moral di Jepang. Dengan melihat kebingungan anak-anak muda Jepang ketika membahas tentang moral, saya menjadi sadar. Meskipun sejak kecil mereka dibiasakan untuk melakukan disiplin, kerja keras, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya, namun untuk apa mereka melakukan itu? Sejauh mana suatu perbuatan dikategorikan baik? Serta tujuan-tujuan yang lebih dalam ketika melakukan suatu kebaikan, masih menjadi tanda tanya besar dalam kepala mereka.


Kalau dalam Islam, maka pertanyaan-pertanyaan itu sangat mudah untuk dijawab. Tinggal mempelajari Alquran saja, kita bisa tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Ada konsekuensi yang jelas ketika kita melakukan kebaikan ataupun keburukan.


Dalam masyarakat liberal, nilai-nilai kebaikan dan keburukan akan sangat mudah sekali bergeser. Tergantung pihak mana yang kuat, dan siapa yang bisa membangun opini di masyarakat.


Karena itu, nilai-nilai yang dulu dianggap buruk, seperti seks bebas, bisa saja bergeser karena pengaruh media yang mencitrakan keindahan dalam pergaulan bebas. Padahal, akibat seks bebas yang berujung pada kerusakan nasab anak, penyakit-penyakit kelamin, dan kerusakan sistem sosial di masyarakat tidaklah hilang hanya dengan penggambaran yang indah itu saja.


Saya sendiri tidak menilai bahwa pendidikan moral di Indonesia lebih baik dari Jepang. Indonesia memiliki konsep tentang moral yang kaya. Setiap pemeluk agama bebas untuk mengajarkan konsep moral kepada pemeluknya. Namun, kekurangannya ada dalam teknik mengajarkan moral kepada anak-anak. Bagaimana agar pendidikan moral tidak hanya masuk ke tataran kognitif saja, tapi sampai menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi karakter yang melekat kuat dalam diri anak. PR besar dalam sistem pendidikan di negeri tercinta ini.



Hifizah Nur
Mahasiswa program master di Aichi University of Education

1) Zemi : sebutan untuk seminar, kegiatan berkumpul bersama teman-teman satu lab, untuk melaporkan kemajuan penelitian masing-masing.


sumber : republika.co.id

Sabtu, 02 Juni 2012

Dorong Pancasila Jadi Ideologi Dunia


jpnn - Sabtu, 02 Juni 2012

JAKARTA–Rektor Univesitas Indonesia (UI), Gumilar Rusliwa Soemantri menerangkan ideologi Pancasila yang dimiliki rakyat Indonesia sesungguhnya merupakan nilai-nilai universal. Memuat berbagai keluhuran nilai kehidupan yang diterima oleh masyarakat di dunia.

Tentunya, tegas Gumilar kekuatan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itulah yang menempatkan ideologi ini sangat penting. Bukan hanya untuk pemersatu rakyat Indonesia, tetapi juga menjadi alat pemersatu bagi bangsa-bangsa di dunia. ”Sudah terlalu lama dunia dibayangi oleh dua ideologi besar. Liberalisme dan Sosialis. Kini saatnya Pancasila menjadi jawaban atas kejenuhan ideologi masyarakat dunia,” papar Gumilar Rusliwa Soemantri di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta, Jum’at (1/6).

Menurutnya lahirnya Pancasila memang untuk rakyat Indonesia. Pancasila sebagai ideologi yang diwariskan oleh pendiri bangsa untuk mesin penggerak bangsa. Meskipun nilai-nilai yang terkandung bermakna bagi masyarakat dunia.

Gumilar menegaskan segala polemik dan persoalan yang ada di Indonesia dapat terselesaikan melalui ruang-ruang nilai yang terkandung dalam Pancasila. Karena memang ideology berasaskan lima sila itu menjadi solusi keragaman bangsa Indonesia. “Pancasila adalah Indonesian Ways. Merupakan berkah bagi seluruh rakyat Indonesia. Sangat disayangkan jika tak dipahami,” tegasnya.

Dia mengakui dalam implementasinya terkadang Pancasila mengalami hambatan. Itu lebih disebabkan penafsiran terhadap nilai-nilai Pancasila yang belum tertanam. Apalagi Pancasila merupakan kumpulan nilai kehidupan, butuh proses menjadikan perilaku,

Gumilar berharap waktu yang berjalan telah membuat seluruh elemen bangsa Indoensia dpat bergerak cepat mengikuti nilai Pancasila. Tidak lagi memberikan tafsiran-tafsiran yang individual. “Pancasila ideologi yang tak bisa dibantah lagi. Masyarakat dunia pun mengakui itu,” jelasnya.

Sementara itu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj menambahkan pluralisme di indonesia sudah menjadi fakta kehidupan bangsa. Tidak boleh dikesampingkan dan diabaikan.

Pluralisme itu, lanjut dia hanya bisa terjawab dan terlewati segala persoalannya dengan melaksankaan ideology Pancasila. NIlai yang ada dalam ideology tersebut secara substansial harus diamalkan. ”Jangan hanya seremoni saja. Bukan hanya hafalkan sila-silanya. Kita perlu menjiwai dalam kehidupan berbangsa dan.brnegara,” ungkapnya.

Dia tak memungkiri pelaksanaan Pancasila  masih dalam proses. Masyarakat secara umum belum dewasa melihat ideology itu. Karakter buliding masih belum tuntas. Buktinya ada pembangunan gereja yg ditolak oleh orang Islam. Begitu pula sebaliknya. (rko)

sumber : jpnn.com

Rabu, 04 Januari 2012

Sukiyat, Tokoh di Balik Kiat Esemka, Mobil Dinas Wali Kota Solo



Sukiyat, Gagal Masuk SMK karena Cacat Kaki

TIDAK sulit menemukan lokasi pusat pembuatan mobil Kiat Esemka. Yakni, di pinggir Jalan Raya Solo-Jogja Km 4, Ngaran, Klaten, Jawa Tengah. Papan nama bengkel tersebut terpampang jelas dan berukuran cukup besar.

Pengguna jalan yang melaju dari arah Solo hampir pasti bisa melihat jelas papan itu. Aktivitas di bengkel tersebut tidak jauh berbeda dari bengkel pada umumnya. Suara bising mobil terdengar keras, bahkan sesekali memekakkan telinga. Ramainya aktivitas menandakan bahwa bengkel punya banyak pelanggan.

Sebuah mobil hitam diparkir di depan ruangan berukuan sekitar 6 x 9 meter. Beberapa mekanik muda sedang menyempurnakan mobil tersebut. Ada yang sedang memoles, ada pula yang memperbaiki bagian mesin dan pintu mobil.

"Ini salah satu mobil Kiat Esemka yang sedang dirakit. Tinggal proses akhir. Yang merangkai sejak awal sampai hampir jadi seperti sekarang adalah siswa SMK yang PKL (praktik kerja lapangan) di tempat saya," ujar Sukiyat, pemilik bengkel sekaligus pelopor pembuatan mobil Kiat Esemka.

Nama Kiat Esemka merupakan gabungan nama Sukiyat (biasa dipanggil Kiat) dan SMK yang ditulis dengan Esemka. Sukiyat adalah pemilik ide, sedangkan siswa SMK menjadi perakitnya.

Langkah Sukiyat memelopori kelahiran Kiat Esemka berawal dari keprihatinannya terhadap salah satu SMK negeri di Klaten yang kurang diminati masyarakat. Sebab, SMK tersebut selama ini hanya mengandalkan jurusan pertanian.

Setelah terpilih menjadi wakil ketua komite sekolah, Kiyat "panggilan Sukiyat" memulai membuat gebrakan. Pada 2009, dia mempersiapkan rencana merakit mobil. Awalnya, dia memanfaatkan mesin mobil Toyota Corn sebagai objek praktik siswa SMK yang magang. Ternyata, dari mesin tersebut, selama dua bulan, siswa mampu merangkai mesin sampai hampir jadi.

Proses selanjutnya adalah membuat bodi mobil. Menurut pria kelahiran Klaten, 22 April 1957, tersebut, proses inilah yang paling sulit. Dia sampai lupa berapa kali percobaan dilakukan siswa PKL untuk membuat bodi.

"Sebab, untuk membentuk bodi dan lantai mobil, dibutuhkan ketelitian. Salah sedikit saja ukurannya, berpengaruh pada rangkaian yang akan digabungkan. Sangat banyak percobaan yang dilakukan. Saya sampai lupa," ungkapnya.

Dia masih ingat, setelah mobil selesai dibuat, ada kunjungan dari Kementerian Pendidikan Nasional (sekarang Kemendikbud). Yang datang saat itu adalah Direktur Pembinaan SMK Joko Sutrisno.

Mengetahui potensi tersebut, Joko meminta Kiyat membina siswa SMK agar merangkai mobil sendiri tanpa menggunakan mesin pabrik. Kiyat langsung menyanggupi permintaan Joko. Dia kemudian mengumpulkan siswa yang PKL di bengkelnya.

Ternyata, para siswa juga tertantang untuk bisa merangkai mobil sendiri. Saat merangkai Kiat Esemka kali pertama, memang butuh waktu cukup lama, sekitar 2,5 bulan.

Lamanya waktu pengerjaan itu disebabkan masih banyaknya komponen yang harus diburu ke toko otomotif atau dibuat sendiri. Mulai onderdil mesin, persneling, sampai pembuatan lantai mobil. Untuk semua itu, Kiyat hanya bertugas membimbing dan mengawasi. Pengerjaan teknis merangkai mobil ditangani seluruhnya oleh siswa SMK yang PKL dan diawasi guru pembimbing.

Saat ini, sudah ada 10 unit mobil yang diproduksi Kiyat bersama puluhan siswa SMK yang praktik di bengkelnya. Dua unit lagi sedang dalam proses dan hampir jadi. Sepuluh mobil yang sudah selesai tersebut merupakan pesanan SMK yang siswanya ikut PKL di bengkelnya.

"Mobil yang dipesan SMK digunakan untuk praktik agar siswa lebih mahir. Dengan demikian, saat lulus SMK nanti, mereka benar-benar siap kerja, tidak bingung mau bekerja apa," ungkap bapak dua anak tersebut.

Bukan hanya SMK yang berminat terhadap mobil-mobil tersebut. Wali Kota Solo Joko Widodo sudah mengambil dua unit untuk kendaraan dinas dirinya dan wakil wali kota. Saat ini, Bupati Klaten Sunarna juga memesan dua unit.

Kiyat menegaskan, merek mobil Kiat Esemka tersebut sudah dipatenkan. Namun, karena masih terkendala izin dan administrasi, mobil itu belum bisa diproduksi secara masal. Sebab, untuk memproduksi mobil, diperlukan persyaratan yang cukup rumit. Dia berharap pemerintah membantu menyelesaikan persoalan tersebut.

Meski demikian, tidak berarti dia berhenti memproduksi Kiat Esemka. Dia akan terus-menerus membuat mobil karena saat ini banyak sekolah yang memesan. Kiyat mengklaim, banyak koleganya yang sudah memesan. Total mencapai ribuan.

Namun, karena masih terkendala izin, dia belum berani menyanggupi. "Sekarang saya masih berfokus untuk menularkan ilmu kepada siswa SMK yang mau belajar di bengkel saya. Saat ini, ada lebih dari 15 sekolah yang mengirim siswanya untuk PKL. Jumlahnya seangkatan mencapai puluhan orang," tambahnya.

Sebelum siswa memulai merangkai mobil, Kiyat memberikan tugas khusus kepada mereka untuk membuat miniatur mobil. Masing-masing kelompok terdiri atas dua orang. Dalam waktu satu sampai dua pekan, siswa harus bisa menyelesaikan miniatur mobil tersebut. Tujuannya, siswa bisa mempelajari dengan detail cara merangkai mobil yang sesungguhnya.

Terkait dengan kualitas, Kiyat mengklaim berani bersaing dengan mobil keluaran pabrik. Bahkan, pernah dilakukan test drive mobil tersebut dengan jarak Jakarta"Surabaya. Bahan bakarnya premium dengan perbandingan 1 liter : 12 kilometer, sedangkan isi silinder 1.500 cc.

Untuk harga, Kiat Esemka jauh lebih terjangkau jika dibanding mobil keluaran pabrik. Satu unit Kiat Esemka hanya dibanderol Rp 95 juta.

Ketertarikan Kiyat di bidang otomotif terlihat sejak dirinya berusia belasan tahun. Saat menginjak remaja, dia mencoba masuk SMK. Namun, karena kaki kirinya cacat (difabel), dia tidak bisa masuk ke sekolah tersebut.

Kiyat tidak putus asa. Dia kemudian masuk ke Lembaga Penelitian Pengembangan Penyandang Cacat Prof Dr Soeharso. Dia belajar di lembaga tersebut selama setahun. Yang dipilih bukan jurusan otomotif, tapi menjahit. Hal tersebut didasarkan pada latar belakang orang tuanya yang memiliki usaha tenun.

"Kemampuan dasar di bidang otomotif saya lebih karena belajar otodidak. Jadi, saya sejak kecil memang senang mengutak-atik motor. Saya dulu membuka bengkel Vespa, kemudian lanjut ke Hardtop," ungkap suami Halimah Partini tersebut.

Setelah usahanya cukup berkembang, perusahaan cat dari Jerman (Pacific Paint) dan Jepang (Nippon Paint) tertarik. Pada 1982, Kiyat dikirim ke Jepang oleh perusahaan cat tersebut selama tiga bulan. Selama di Jepang, kemampuan Kiyat tentang otomotif semakin terasah. Dia mendapat tambahan ilmu tentang teknik body repair.

Setahun kemudian, giliran perusahaan cat dari Jerman mengirim Kiyat untuk belajar di negara tersebut. Waktunya hampir sama, tiga bulan. Di Jerman, dia kembali mendalami body repair. Pengalaman tersebut kemudian semakin meyakinkan Kiyat bahwa bengkel yang dia dirikan bisa lebih berkembang.

Pria yang kaki kirinya cacat sejak berumur enam tahun karena polio itu merupakan sosok yang tegas dalam hal pekerjaan. Bahkan, dia jeli membaca peluang bisnis. Itulah yang juga membuat dirinya berani menggagas pembuatan Kiat Esemka. (*/c5/nw/ca)

reportase oleh : BOY ROHMANTO, Klaten - JPNN.com Rabu, 4 Januari 2012

Kamis, 18 Agustus 2011

Hamil, Staf Anggota DPR di PHK

antaranews.com - Kamis, 18 Agustus 2011

Jakarta (ANTARA) - Nurely Yudha Sinaningrum staf dari anggota DPR RI Itet Tridjajati Sumarijanto dari Fraksi PDI Perjuangan berencana melaporkan Itet ke Badan Kehormatan DPR RI dan Komnas Perempuan karena diberhentikan dalam kondisi hamil dan tanpa perundingan sebelumnya.

"Saya sudah meminta untuk berdialog dengan beliau mengenai pemecatan ini, namun tidak pernah ditanggapi, jadi kasus ini akan saya laporkan ke Badan Kehormatan dan Komnas Perempuan," kata Nurely di Jakarta, Kamis.

Ia menceritakan bahwa sejak Juli lalu, saat mengetahui dirinya sudah hamil tujuh bulan, Itet memberitahukan padanya bahwa masa kerjanya tinggal dua bulan lagi dan dengan gaji yang dipotong 50 persen.

"Ia memutuskan itu karena menilai aku sedang hamil tua dan sebentar lagi melahirkan, sehingga sudah tidak efektif dan tidak produktif lagi. Mungkin baginya, pekerja perempuan mengandung dipandang sebagai problem karena tidak mampu mengerahkan tenaganya seoptimal mungkin. Ibu Itet merasa rugi bila mempunyai karyawan dalam keadaan hamil tua," kata Nurely.

Selain itu, sikap Itet terhadap staf yang sudah hamil tua juga tidak adil karena di tengah hamil tua dirinya tetap diharuskan bekerja dengan jam kerja dan beban kerjanya tidak berubah.

Permintaan cuti untuk melahirkan sesuai dengan UU Tenaga Kerja No 13 tahun 2003, pasal 82, ayat 1 justru selama tiga bulan dengan gaji dibayar penuh lanjut Nurely telah dilanggar oleh Itet.

Saat mengajukan cuti melahirkan pada 3 Agustus, katanya, justru yang didapat adalah Surat Pernyataan pengunduran diri atau PHK secara sepihak dengan pengurangan gaji bulan Juli sebanyak 50 persen.

Dalam surat pernyataan mundur itu, Itet menawarkan berbagai bantuan dana seperti THR Rp1 juta, uang melahirkan Rp2 juta, dan uang kemanusian Rp5 juta.

"Ini jelas, sebuah keputusan PHK yang sepihak dan merugikan. Sehingga aku menolak menandatangani surat itu," katanya.

Sementara itu, Itet Tridjajati saat dihubungi mengatakan bahwa pernyataan Nurely soal pemecatan itu semua tidak benar karena dirinya tidak pernah menyatakan Nurely dipecat.

"Aturan mengenai staf anggota dewan ada tersendiri, dan memang tidak ada kontrak kerja karena saya mempekerjakan dia juga karena kemanusiaan, kenapa saya justru yang diancam, dituduh dan diperas," katanya.

Itet mengatakan dirinya siap jika kasus ini dilaporkan ke Badan Kehormatan dan Komnas Perempuan, karena dirinya merasa tidak bersalah melakukan pemecatan itu.

"Saya sudah lapor juga ke biro hukum DPR dan saya siap hadapi semuanya," kata Itet yang merupakan anggota DPR dari Dapil Lampung II itu. (ANT)

Editor: Desy Saputra

copy dari : antaranews.com